25 Jan 2014

Platinum 2014 Outlook: South Africa Mining, China Demand And Europe Emissions Drive Platinum Deficits

Platinum bars Ilya Naymushin/Reuters  
 
South Africa, China and Europe will drive platinum supply-and-demand fundamentals in 2014, even as the premium precious metal struggles against a downdraft from declining gold prices, according to platinum specialist Johnson Matthey PLC (LON:JMAT).
Many precious metals analysts have been bullish on platinum, driven by rising demand and an ongoing supply deficit, but prices this year haven't fared well, sailing down 10 percent partly on weakness in gold. It's unclear whether the tight supply-and-demand situation will beat out other factors in the short term, and lift prices.
High mining costs in South Africa mean its mines are unlikely to deliver more platinum in the near term, said Johnson Matthey marketing head Jeremy Coombes in a recent industry presentation. Johnson Matthey previously forecast a platinum deficit of 605,000 ounce in 2013, the third straight year of deficits and up more than 40 percent from 2012.
With platinum selling for about $1,400 per ounce, South African mines can cover most of their cash costs. But piling broader capital and exploration costs on top of those unit costs paints a more troubling picture, where many mining companies see mine expansion as unprofitable.

“There’s no doubt that miners are struggling in South Africa,” said Coombes in New York last week. He estimated that, including capital expenditure costs, about half of South African and Zimbabwean mining output doesn’t break even for their parent companies.
South Africa is the world’s largest producer of platinum, far exceeding rivals like Russia and Zimbabwe. It provided two thirds of the world’s platinum mining output in 2013. The world’s top three platinum producers, Impala Platinum Holdings Limited (ADR) (OTCMKTS:IMPUY),  Anglo American Platinum Ltd (ADR) (OTCMKTS:AGPPY) and Lonmin Plc (LON:LMI) have major South African operations.
South African Mining Costs Curve, October 2013, Johnson Matthey Dec 5, 2013 Presentation, ETF Securities Precious 

Metals Conference  Johnson Matthey“Companies have tried to conserve cash by not spending as much as maybe they should be on new developments,” said Coombes. “Essentially, South African mining is preserving the short term, possibly at the expense of the long -erm ability to produce to meet growing demand.”
Precious metals specialists see upside for platinum in coming years, as an automobile recovery in the U.S. and China continues. Much of the world’s platinum is used in catalytic converters in cars, the biggest use for the metal, which is also used in jewelery.
Others have also feared rising production costs for platinum miners, with HSBC Holdings PLC (LON:HSBA) precious metals analyst James Steel pointing to heavy platinum cash costs as a key danger for the industry. He estimated that cash costs could be as high as $1,700 per ounce.
“In the current price climate no South African producer can afford to significantly expand capacity,” wrote Steel in a Nov. 22 report. "Should demand increase significantly, producers might not be able to respond to the increased appetite for the metals.”
Just as South African suppliers suffer from limited growth potential, platinum demand is steadily rising. New emissions rules in Europe, set to take effect September 2014 and into 2015, will significantly raise the amount of platinum required in automobile anti-emission equipment, according to Coombes. Europe’s diesel-fired vehicles tend to use more platinum than its sister metal palladium, which is more common in the emission-control equipment of gasoline engines.
China, too, will play a key role in platinum markets in 2014. The country is increasingly seeking platinum for industrial uses, aside from its already established role as a major consumer of platinum jewelry.
Interest in platinum has jumped in 2013, as measured by sales on the Shanghai Gold Exchange (see chart below), with this year's sales of about 35,000 kilograms topping those of the last four years.
Platinum Sales on Shanghai Gold Exchange 2009-2013, Johnson Matthey Presentation Dec 5, 2013, ETF Securities Conference  Johnson Matthey

Menyulap sampah jadi energi listrik dan gas dengan alat sederhana

Siapa yang menduga tumpukan sampah sisa sayur mayur dan buah-buahan busuk yang ada di sudut-sudut pasar mampu disulap menjadi sumber energi alternatif bioetanol pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya kian melambung tinggi.

Didorong semakin melambungnya harga bahan bahan bakar minyak, Soelaiman Budi Sunarto tergerak mencari energi alternatif yang bisa menggantikan minyak. Dibantu oleh beberapa tenaga muda, di tahun 1998, Budi mencoba mengumpulkan sampah-sampah di sebuah rumah yang sengaja dibelinya di Desa Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Diakui oleh Budi, sebenarnya bioetanol bukan barang baru. Namun sayang, bioetanol kurang mendapat perhatian dari masyarakat, karena kurangnya sosialisasi penggunaan bioetanol. Masyarakat Indonesia sangat bergantung dengan BBM yang berasal dari fosil yang tidak dapat diperbarui.

Menurut Budi, dibandingkan dengan negara Brazil yang sudah mulai mensosialisasikan penggunaan bahan bakar campuran etanol dengan bensin sejak tahun 1976, di Indonesia kebijakan tersebut belum dijalankan. Meskipun sudah ada aturan Presiden tentang penggunaan bahan bakar lainnya selain BBM, namun belum dijalankan sepenuhnya.

Tak heran SPBU di Brazil yang dikelola Petrobras menyediakan dua tipe bahan bakar, yaitu etanol dan bensin. Brazil menggunakan produksi tebu sebagai bahan baku bioetanol, dan sudah diproduksi secara massal.

"Bahkan, komposisi penggunaan bioetanol dengan bensin di Brazil juga diatur. Besarannya pun beragam, mulai dari 10 persen sampai 22 persen. Hingga Juli 2007, penggunaan bahan bakar mobil menjadi 25 persen etanol dan 75 persen bensin," papar Budi, kepada wartawan, di Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (11/11/2013).

Awalnya, dalam produksi skala kecil untuk konsumsi terbatas bioetanol, Budi mencoba membuat bioetanol dari bahan singkong. Dan hasil racikannya tersebut, berhasil digunakan sebagai bahan bakar motor.

Tak berhenti sampai di situ, Budi mencoba membuat bioetanol hasil penyulingan dari berbagai jenis tanaman, seperti ubi kayu, jagung, sorgum biji, sagu, serta tanaman yang berglukosa seperti tebu, sorgum manis, bit dan serat jerami, bahan limbah bekas kayu gergaji, hingga ampas tebu.

Dan hasilnya, setelah melalui beberapa proses, sekali lagi, bisa digunakan sebagai bahan bakar motor. Selain membuat bioetanol dari tumpukan sampah, Budi membuat instalasi sederhana yang mengubah sampah menjadi gas, bensin, dan listrik. Hasil dari temuannya tersebut, kemudian disalurkan ke masyarakat setempat secara gratis.

"Bioetanol bisa dijadikan sumber energi alternatif, karena persediaan bahan bakar minyak bumi semakin menipis. Selain mudah dan murah, bioetanol bisa menggantikan minyak bumi," terangnya.

Melalui staf Budi bernama Larsi, dia menjelaskan bagaimana proses pembuatan bioetanol menggunakan peralatan yang sangat sederhana, yaitu albakos, alat biogas konsumsi sampah.

Alat itu memiliki tinggi sekira 95 sentimeter dengan diameter tabung 50 sentimeter, mampu menampung enam kilogram sampah organik kering, seperti sabut kelapa, dedaunan, kayu dan batang padi sisa penggilingan.

Dengan peralatan tersebut, sampah diubah menjadi gas metana lewat proses purifikasi (pemurnian) sehingga menghasilkan bioetanol yang nantinya dialirkan ke kompor warga untuk memasak dan ke genset untuk pembangkit listrik.

Untuk memasak menggunakan bioetanol harus menggunakan kompor khusus yang di berinama "bahenol" yang artinya bahan bakar  hemat etanol. Jadi konversi minyak tanah ke gas elpiji tidak berlaku di sekitar daerah ini.

"Bioetanol sangat aman, murah, dan tidak gampang meledak. Jadi masyarakat tidak perlu takut untuk menggunakannya," jelasnya. 

Inovasi lain dari bioetanol terbuat ciu yang merupakan minuman beralkhohol dan dijadikan bahan bakar untuk sepeda motor. Ciu sendiri berasal dari hasil penyulingan tetes tebu yang diproduksi menjadi alkohol untuk kepentingan medis, misalnya untuk mencuci alat kesehatan agar kembali steril setelah digunakan.

Larsi mengungkapkan, ciu merupakan bioetanol yang memiliki kadar alhohol mencapai 60-80 persen. Padahal, cairan bioetanol dengan kadar 20 persen saja sudah mampu menghidupkan mesin mobil dan sepeda motor.

Yang lebih menarik lagi, Rumah Budi di Desa Doplang Karangpandan sudah mandiri listrik yang terbuat dari panel surya dan sedang merintis Desa Mandiri Listrik yang berasal dari sampah organik dan kotoran sapi yang diolah menjadi bioetanol.

Menggunakan pembangkit listrik dengan mendirikan kandang sapi di tanah kas desa, dan meminta warga sekitar yang berternak sapi untuk mengandangkan sapinya di sana.

"Karena listrik yang dibutuhkan banyak, kita membutuhkan waktu. Paling tidak menunggu kotoran-kotoran sapi terkumpul dulu, baru diolah. Rencananya listrik dari biogas akan dialirkan ke setiap rumah," terangnya.

Jika seekor sapi bisa menghasilkan 20 kg kotoran setiap hari, maka dibutuhkan enam ekor sapi untuk menghasilkan energi listrik berkekuatan A 2.500 watt. Bukan hanya listrik, tapi juga akan dihasilkan gas metana sebanyak 650 gram perjamnya, setara dengan tiga kilogram gas elpiji.

Hasil dari biogas tersebut, api yang dihasilkan bukan berwarna biru, tapi tapi berwarna putih. Bila benar-benar bisa diproduksi massal di Indonesia, tidak akan terjadi krisis listrik dan elpiji.

Namun dukungan dari pemerintah sampai saat ini belum diperoleh. Untuk biaya produksi bioetanol dilakukan secara mandiri. Dengan cara membuka kelas khusus pelatihan bioetanol dan penelitian energi alternatif di pusat penelitiannya di Agro Makmur. Peserta kursus berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan juga dari Malaysia dan Singapura.

Sumber:
http://daerah.sindonews.com/read/2013/11/11/22/804428/hebat-ubah-sampah-jadi-energi-listrik-gas

Mining gold on unused Mobile phones

Mobile phones that are not used are precious metals, such as gold or silver. Mobile phones are high-tech products as well as the PCB board where the wires contain metals such as gold, silver, platinum and iridium. Although of course the numbers are very small. But we have a saying, "little by little into a hill". Several hundred grams of gold, silver and other metals can be obtained from 1 ton of unused mobile phones. It makes it like a gold mine, with gold and silver content of greater than usual mine.
Lately, half of the population has a mobile phone, and constantly new models appear on the market. Last year ago, more than 48 million mobile phones generated. In anticipation of this 6 large communications companies have implemented systems to get a collection of mobile phones are unused. Last year only one of these companies can collect 10 million of mobile phones is not in use, which of course is a gold mine.  

For washing gold from Japan of mobile phones using purification technology that has been developed ore in a mine Japan. As we know, mine ore at a place usually not pure and contains various types of metals. Because Japan has many volcanoes, magma heat is often used to melt the metal, which is then mixed and form ore deposits. Therefore, this technology was developed a long time to purify dirty ore into metal.Copper mining town Profinsi Kosaka in Akita, about 600 kilometers the north of Tokyo, is one of the few cities that developed it.
Many mobile phones are collected and processed there. In the past, Kosaka famous as a prominent producer of copper, but after the second World War, the mine was closed due to not compete with the price of copper imports.
The Mobile phone as well as the material in which the metals are there still intermingled. Smelting technology developed can now be used to obtain valuable metals from the former mobile phone.A large number of mobile phones collected are first killed and then inserted into the crucible along with copper ore. Objects such as plastic, lead and tin are separated and removed from the mixture to produce a material that is known for its raw copper, which is a mixture of copper, gold, platinum and other metals. Raw copper was then put in a solution of sulfuric acid. When the cathode is supplied electricity is fed into the solution, pure copper gather at the cathode. Other precious metals to harden and then separate.
Separate metal hardens and is then put into a solution of nitric acid and the process was repeated. This time gathered in pure silver cathode. The remaining material then enter into a solution of hydrochloric acid in which electricity is passed back to get pure gold. Kosaka smelter to process 50 tonnes of mobile phones each year, and then gained 15 pounds of gold. Because plant in Kosaka take lead, cadmium and other harmful substances before they start the process earlier. These materials are also purified for industrial use.The explosion of mobile phone use has resulted in an incredible byproducts. If the mobile phones discarded it immediately destroyed and buried in the ground, the heavy metals that are harmful can be separated and harmful effects to the environment. But by processing mobile phone that is not used this without causing garbage, can be obtained gold and silver. I think this technology as the saying goes, "once paddled, 2-3 islands exceeded"


Source: 
http://www.kamusilmiah.com/elektronik/menambang-emas-dari-telpon-genggam/

Menambang emas pada HP bekas

Telpon genggam yang sudah tidak terpakai merupakan logam berharga, seperti halnya emas atau perak. Telpon genggam adalah produk teknologi tinggi dimana papan PCB serta kabel-kabelnya mengandung logam-logam seperti emas, perak, platina dan iridium. Walaupun tentu saja jumlahnya sangat kecil. Tapi kita kan punya pepatah, “sedikit demi sedikit menjadi bukit”. Beberapa ratus gram emas, perak dan logam lainnya dapat diperoleh dari 1 ton telpon genggam yang tidak terpakai. Ini menjadikannya seperti tambang emas, dengan kandungan emas dan perak yang lebih besar dari tambang biasa.
Akhir-akhir ini, setengah dari penduduk Jepang mempunyai telpon genggam, dan secara terus menerus model baru muncul di pasaran. Tahun lalu saja, lebih dari 48 juta telpon genggam dihasilkan. Untuk mengantisipasi hal ini 6 perusahaan komunikasi besar telah menerapkan sistim pengumpulan untuk mendapatkan telpon-telpon genggam yang tidak terpakai. Tahun lalu saja salah satu dari perusahaan ini dapat mengumpulkan 10 juta telpon gengam yang tidak dipakai, yang tentu saja merupakan suatu tambang emas
Untuk mendulang emas dari telepon gengam Jepang menggunakan teknologi pemurnian bijih yang selama ini dikembangkan di sebuah pertambangan Jepang. Seperti kita ketahui tambang bijih di suatu tempat biasanya tidak murni dan mengandung bermacam jenis logam. Karena Jepang memiliki banyak gunung berapi, panasnya magma sering dipergunakan untuk melumerkan logam, yang kemudian mencampurkan serta membentuk deposit bijih. Karena itulah, teknologi ini dikembangkan sejak lama untuk memurnikan bijih yang kotor menjadi logam.
Kota penambangan tembaga Kosaka di Profinsi Akita, sekitar 600 kilometer diutara Tokyo, adalah satu dari beberapa kota yang mengembangkan teknologi itu. Banyak telpon genggam dikumpulkan dan diproses disana. Dulu, Kosaka terkenal sebagai kota penghasil tembaga yang terpandang, tetapi setelah Perang Dunia kedua, pertambangan itu ditutup karena kalah bersaing harga dengan tembaga impor.
Telpon genggam itu seperti halnya material dimana logam-logam yang ada masih saling bercampur. Teknologi peleburan yang dikembangkan saat ini dapat digunakan untuk memperoleh logam berharga dari telpon gengam bekas ini.
Sejumlah besar telpon genggam yang dikumpulkan pertama-tama dihancurkan dan kemudian dimasukkan kedalam wadah peleburan bersama dengan bijih tembaga. Benda-benda seperti plastik, timah hitam dan timah dipisahkan dan dikeluarkan dari campuran tersebut untuk menghasilkan sebuah material yang dikenal dengan tembaga mentah, yang merupakan campuran dari tembaga, emas, platina dan logam-logam lainnya. Tembaga mentah itu kemudian dimasukkan dalam larutan asam sulfur. Saat katoda yang dialirkan listrik dimasukkan kedalam larutan itu, tembaga murni berkumpul di katoda tersebut. Logam-logam berharga lainnya kemudian mengeras dan terpisah.
Logam yang mengeras dan terpisah ini kemudian dimasukkan kedalam larutan asam nitrat dan proses tadi diulang kembali. Kali ini perak murni yang berkumpul di katoda. Material sisanya kemudian di masukkan kedalam larutan asam hidroklorik dimana listrik kembali dialirkan untuk mendapatkan emas murni.
Pabrik peleburan di Kosaka mengolah 50 ton telpon genggam setiap tahunnya, dan kemudian memperoleh 15 kilogram emas. Karena pabrik di Kosaka mengambil timah hitam, kadmium dan zat-zat berbahaya lainnya sebelum mereka memulai proses tadi. Material-material ini juga dimurnikan untuk penggunaan industri.
Ledakan penggunaan telpon genggam telah menghasilkan produk sampingan yang luar biasa. Jika telpon-telepon genggam yang dibuang itu langsung di hancurkan dan dikubur di tanah, maka logam-logam berat yang berbahaya dapat terlepas dan menimbulkan pengaruh yang berbahaya bagi lingkungan. Tapi dengan mengolah telpon-telepon genggam yang sudah tidak dipakai ini tanpa menimbulkan sampah, dapat diperoleh emas dan perak. Kayaknya teknologi ini seperti kata pepatah, “sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui”

Sumber:  http://www.kamusilmiah.com/elektronik/menambang-emas-dari-telpon-genggam/

22 Jan 2014

Dokter di Surabaya Menciptakan Mobil Berbahan Bakar Angin

Semakin banyak orang kini berusaha mencari terobosan guna membuat energi alternatif. Hal itu setidaknya dipengaruhi melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian hari dirasa semakin mencekik. dan demi meminimalisir tingkat polusi udara pula Salah satu terobosan dilakukan oleh seorang dokter di Surabaya, adalah Helmy Djafar Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini mencoba sebuah riset mengenai mobil berbahan bakar angin
.
Awalnya Helmy hanya sekedar hobi utak atik pada 15 tahun lalu. Ketika itu ia memiliki prototipe mobil terbang yang digerakkan dengan gelombang suara.
"Saya suka utak-atik, jadi masih bentuk mainan digerakkan dengan suara," kata Helmy saat berkunjung ke kantor redaksi Tribunnews.com, Jumat(8/11/2013) malam.
Usai sering melakukan banyak uji coba, pria 44 tahun itu lalu mengajak beberapa temannya seperti Adang Mansur, M Iksan dan Sumadji. Mereka bertiga kemudian membuat konsep mengenai mobil berbahan bakar angin.

Mobil tersebut didesain dengan menggunakan alat bantu berupa tabung oksigen berisi 56 liter. Lalu, mereka mencari sebuah mobil bekas bermerk Daihatsu Hi Jet senilai Rp 7,5 juta dan dibongkar seluruh mesinnya serta hanya disisakan sasis, kemudi serta persnelingnya.
Satu tabung berisi angin tersebut kata Helmy bisa menempuh jarak tiga sampai empat kilometer.
"Coba kalau bagian lekukan tempat duduk kita kasih tabung, lalu diatas kita kasih tabung jadi total 24, maka tinggal dikali tiga saja jarak tempuhnya," kata Helmy.
Memang, lanjut Helmy mobil karyanya tersebut jauh dari kata sempurna. Akan tetapi terdapat banyak keuntungan apabila nantinya benar-benar dipasarkan ke seluruh rakyat Indonesia dengan harga yang murah, meski biaya produksinya sangat mahal, mencapai Rp 300 Juta.

"Total biaya riset sampai 300 juta, ratusan kali gagal," kata Helmy.
Mobil berbahan bakar udara ini lanjut Helmy juga sangat irit dibandingkan dengan mobil listrik. Tiap 10 kilometer biaya yang dihabiskan tidak lebih dari Rp 100.
Tidak hanya itu, emisi gas buang dari kendaraan ini juga bisa dimanfaatkan menjadi pendingin ruangan atau AC yang dipakai di dalam mobil.
"Ini udara biasa posisinya dimampatkan, outputnya jadi AC dingin. Jadi, mesinnya kalau habis dipakai, pertama itu ada bunga esnya," katanya.

Sempat Dilarang Intel

Perjuangan Helmy Djafar menciptakan sesuatu terobosan alternatif berupa mobil berbahan bakar angin tidak mudah dan selalu menemui jalan terjal.
Sekitar 15 tahun lalu saat Helmy baru saja menciptakan prototipe mobil bertenaga gelombang suara, pria berusia 44 tahun lalu tersebut didatangi empat orang intel. Mereka diperintahkan agar tidak terlebih dahulu menciptakan mobil tersebut.
"Awalnya kita menawarkan kepada investor, tetapi kemudian yang datang malah 4 orang intel, meminta agar sebaiknya mobil tersebut tidak diselesaikan dulu karena tidak tepat momennya," ujar Helmy.

Rintangan tidak berhenti sampai disitu, Helmy yang membawa serta teman-temannya yakni Adang Mansur, M Iksan dan Sumadji memiliki masalah finansial untuk mengembangkan temuannya tersebut.
"Untuk biaya riset saja mencapai Rp 300 juta," kata Helmy.
Ketika berbincang dengan awak redaksi Tribunnews.com, Helmy Cs memang sengaja datang dari Surabaya guna menemui Menteri BUMN, Dahlan Iskan dan Menristek. Mereka bermaksud menyempurnakan temuannya berupa mobil berbahan bakar angin.
"Kami ingin sempurnakan temuan seperti milik pak Dahlan Iskan," katanya.
Akan tetapi apa lacur, bermaksud menemui Dahlan Iskan, Helmy Cs justru hanya memperoleh tangan hampa. Rela menunggu sejak dari pukul 03.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB untuk bertemu Dahlan Iskan di Monas, namun mereka tidak berhasil menemuinya.

Kebuntuan juga ditemui Helmy Cs saat berkunjung ke kantor Menristek. Alur birokrasi yang 'njelimet' mereka temui saat melakukan kunjungan. Begitu pula saat mendatangi para capres seperti Wiranto, Jusuf Kalla dan Hary Tanosoedibjo, semuanya nihil hasil.
"Harapan kami itu cuma satu, karya kami bisa jadi mobil nasional. Bisa jadi punya Indonesia," katanya.

Sumber:
http://www.tribunnews.com/iptek/2013/11/09/berawal-dari-iseng-dokter-di-surabaya-buat-mobil-berbahan-bakar-angin
http://id.berita.yahoo.com/dokter-helmy-sempat-dilarang-intel-ciptakan-mobil-berbahan-173551041.html