5 Jun 2014

EVOLUSI TEKNOLOGI KOMUNIKASI


Pendahuluan
Melihat perkembangan teknologi informasi pada saat ini berkembang seiring dengan revolusi teknologi informasi. Hal ini terlihat pula dalam perkembangan teknologi dibidang telekomunikasi yang berkembang pesat teknologinya dan layanan komunikasi bergerak di dunia (mobile evolutions).

Perkembangan teknologi telekomunikasi di dunia terjadi dengan sangat pesat dikarenakan kebutuhan untuk berkomunikasi dan bertukar data dengan cepat, mudah dan mobile. Salah satu teknologi komunikasi yang sedang mulai banyak di implementasikan, khususnya di Indonesia adalah teknologi wireless 3G (Third Generation) atau generasi ketiga untuk komunikasi selular.

Teknologi 3G yang sekarang ini ditambah dengan teknologi baru 4G bukanlah sebuah hasil yang muncul secara  instan dalam dunia teknologi komunikasi, untuk mencapai tahapan 4G yang sekarang, dunia teknologi komunikasi sudah mengalami evolusi  beberapa kali.

Lebih jelasnya mari kita bahas secara singkat evolusi dari teknologi komunikasi ini :

1. Teknologi Generasi Awal / Zero Generation (0G) [1]
Generasi awal (0G) atau Mobile radio telephone ini merupakan teknologi telepon selular modern permulaan, dimana menggunakan jaringan gelombang radio (radiotelephone) khusus (terpisah dan tertutup dengan jaringan lain yang sejenis) dengan jangkauan jaringan yang terbatas dan dapat terhubung dengan jaringan telepon umum biasa. Dipergunakan biasa pada mobil dan truk agar dapat berkomunikasi dengan jaringan telepon biasa.
Mobile radio telephone ini dikenal dengan nama dagang WCCs (Wireline Common Carriers, AKA telephone companies), RCCs (Radio Common Carriers), and two-way radio dealers. (prinsipnya seperti jaringan komunikasi Polisi atau Taxi (walkie-talkie), hanya saja Mobile radio telephone ini mempunyai nomor telepon tersendiri dan terhubung dengan jaringannya tersendiri).

Kemampuan teknologi 0 G (Zero Generation):
Kemampuan teknologi 0 G ini hanya dapat bisa melayani komunikasi suara saja dan merupakan teknologi awal komunikasi bergerak (mobile) yang di implementasikan dan di komersilakan.

Kelemahan teknologi 0 G :
1. Metoda transmisinya masih half-duplex meski pada perkembangannya mendukung full-duplex.
2. Jumlah pelangan dan jangkauan jaringannya sangat terbatas.
3. Tidak mendukung komunikasi data.

2. Teknologi Generasi Pertama (1G)
Generasi pertama atau 1G merupakan teknologi handphone pertama yang diperkenalkan pada era 80-an dan masih menggunakan sistem analog. Generasi pertama ini menggunakan teknik komunikasi yang disebut Frequency Division Multiple Access (FDMA). Teknik ini memungkinkan untuk membagi-bagi alokasi frekuensi pada suatu sel untuk digunakan masing-masing pelanggan di sel tersebut, sehingga setiap pelanggan saat melakukan pembicaraan memiliki frekuensi sendiri (prinsipnya seperti pada stasiun radio dimana satu stasiun radio hanya menggunakan satu frekuensi untuk siarannya).

Kemampuan teknologi 1 G :
Kemampuan teknologi 1 G ini hanya dapat bisa melayani komunikasi suara saja tidak dapat melayani komunikasi data dalam kecepatan tinggi dan besar.

Kelemahan teknologi 1 G :
Penggunaan teknologi analog pada generasi pertama menyebabkan banyak keterbatasan yang dimiliki seperti kapasitas trafik yang kecil, jumlah pelanggan yang dapat ditampung dalam satu sel sedikit, dan penggunaan spektrum frekuensi yang boros karena satu pengguna menggunakan satu buah kanal frekuensi. Derau intemodulasi (suara tidak jernih).

3.  Teknologi Generasi Kedua (2G)
Teknologi generasi kedua muncul karena tuntutan pasar dan kebutuhan akan kualitas yang semakin baik. Generasi 2G sudah menggunakan teknologi digital. Generasi ini menggunakan mekanisme Time Division Multiple Access (TDMA) dan Code Division Multiple Access ( CDMA) dalam teknik komunikasinya.
Nah, di dalam teknologi 2G ini lah mulai dikenal yang namanya GSM dan CDMA.

GSM (Global System for Mobile Communications)
Awal dari GSM diawali dengan diadakannya konferensi pos dan telegraf di Eropa pada tahun 1982.  Konferensi ini membentuk suatu study group yang bernama Groupe Special Mobile (GSM) untuk mempelajari dan mengembangkan sistem komunikasi publik di Eropa. Pada tahun 1989, tugas ini diserahkan kepada European Telecommunication Standards Institute (ETSI) dan GSM fase I diluncurkan pada pertengahan 1991.  
Alasan munculnya GSM karena kebutuhan bersama terhadap satu sistem jaringan baru yang dapat menjadi standar jaringan yang berlaku dan dapat diterapkan di seluruh kawasan Eropa. Dalam sistem baru juga harus terdapat kemampuan yang dapat mengantisipasi mobilitas pengguna serta kemampuan melayani lebih banyak pengguna untuk menampung penambahan jumlah subscriber baru.  
Jaringan GSM merupakan jaringan yang paling banyak digunakan di dunia, pada tahun 1993, sudah ada 36 jaringan GSM di 22 negara, termasuk Indonesia dan akhir tahun 1993 berkembang menjadi 48 negara dengan 70 operator dan pelanggan berjumlah 1 milyar. Kini GSM di gunakan di 212 negara dengan jumlah pelanggan mencapai 2 Milyar di seluruh dunia. GSM juga mendukung komunikasi data berkecepatan 14,4 kbps (hanya cukup untuk melayani SMS, download gambar, atau ringtone MIDI saja).

CDMA (Code Division Multiple Access)
Merupakan sistem digital yang berbasis teknologi CDMA (Code DivisionMultiple Access), beroperasi pada  dua kelas gelombang (Band Class 1, 1900 MHz) dan (Band Class 0, 800 MHz). Diperkenalkan oleh
Qualcomm pada pertengahan 1990-an dan di dukung oleh AT&T, Motorola, Lucent, ALPS, GSIC, Prime Co, Samsung, Sony, US West, Sprint, Bell Atlantic, Time Warner.

Teknologi Telekomunikasi  pada awalnya dipergunakan dalam komunikasi radio militer Amerika Serikat (AS), mulai tahun 1990 patennya diberikan kepada Qualcomm, Inc. dan dijadikan sebagai standar seluler digital di AS sejak tahun 1993. Oleh karena itu tidak heran jika teknologi ini sangat aman karena tidak dapat digandakan (dikloning). Sehingga teknologi ini sangat cocok bagi kegunaan layanan telepon banking, seperti transfer, cek saldo, dll. GSM yang didukung oleh negara-negara Eropa lebih cepat melejit jumlah pemakainya yang diseluruh dunia pada saat ini sudah mencapai lebih 700 juta. Sementara CDMA jumlah pelanggannya baru mencapai 120 juta. GSM dan CDMA dengan varian awalnya IS-95 A juga muncul pada saat yang bersamaan di awal tahun 90-an tergolong dalam teknologi ponsel generasi ke-2 (2G).
Beberapa keunggulan CDMA-2000 (1X) jika dibandingkan dengan GSM sebagai berikut :
  1. Sebagai teknologi militer CDMA sangat tahan terhadap gangguan cuaca dan interferensi, karenanya noise CDMA sangat rendah sehingga menghasilkan kualitas suara yang sangat baik. Bahkan dalam hujan yang sangat lebatpun kualitas suaranya masih dalam batas yang masih dapat ditoleransi.
  2. CDMA tidak dapat digandakan (dikloning) karena setiap pelanggan diberikan kode yang berbeda (unik). Kode-kode ini sangat sulit dilacak karena bersifat acak.
  3. Daya pancarnya yang sangat rendah (1/100 GSM) memungkinkan hand phone CDMA irit dalam mengonsumsi baterei, sehingga dapat beroperasi lebih lama untuk bicara maupun stand by.
  4. Kapasitas pelanggan per BTS CDMA dapat mencapai 6000 (10 kali GSM). Hal ini disebabkan CDMA lebih irit dalam pemakaian frekuensi. Semua BTS CDMA beroperasi pada frekuensi yang sama, sehingga tidak memerlukan penghitungan yang rumit dalam menyusun konfigu-rasinya. Besarnya kapasitas per BTS membuat biaya investasi yang dikeluarkan sangat rendah. Selain itu CDMA-2000 (1X) beroperasi pada spectrum frekuensi 800 MHz. Hal ini akan membuat luas coverage BTS-nya jauh lebih besar dari GSM. Sehingga hanya memerlukan lebih sedikit BTS untuk meng- cover luas yang sama jika dibandingkan dengan GSM.
  5. CDMA-2000 (1X) dapat me-ngirim data dengan kecepatan hingga 144 Kbps, sementara GSM 9,6 Kbps. Sehingga dapat mendukung layanan SMS, MMS, main game dan down load data melalui internet.
Kemampuan teknologi 2G :
Generasi kedua selain digunakan untuk komunikasi suara, juga bisa untuk SMS (Short Message Service adalah layanan dua arah untuk mengirim pesan pendek sebanyak 160 karakter), voice mail, call waiting, dan transfer data dengan kecepatan maksimal 9.600 bps (bit per second). Kecepatan sebesar itu cukup untuk mengirim SMS, download gambar, atau ringtone MIDI. Kelebihan 2G dibanding 1G selain layanan yang lebih baik, dari segi kapasitas juga lebih besar. suara yang dihasilkan menjadi lebih jernih, karena berbasis digital, maka sebelum dikirim sinyal suara analog diubah menjadi sinyal digital.  
Perubahan ini memungkinkan dapat diperbaikinya kerusakan sinyal suara akibat gangguan noise atau interferensi frekuensi lain. Perbaikan dilakukan di penerima, kemudian dikembalikan lagi dalam bentuk sinyal analog, efisiensi spektrum/ frekuensi yang menjadi meningkat, serta kemampuan optimasi sistem yang ditunjukkan dengan kemampuan kompresi dan coding data digital. Tenaga yang diperlukan untuk sinyal sedikit sehingga dapat menghemat baterai , sehingga handset dapat dipakai lebih lama dan ukuran baterai bisa lebih kecil.

Kelemahan teknologi 2 G:
Kecepatan transfer data masih rendah. Tidak efisien untuk trafik rendah. Jangkauan jaringan masih terbatas dan sangat tergantung oleh adanya BTS (cell Tower).

4. Teknologi Generasi Dua Setengah (2.5G)
Teknologi 2.5G merupakan peningkatan dari teknologi 2G terutama dalam platform dasar GSM telah mengalami penyempurnaan, khususnya untuk aplikasi data. Untuk yang berbasis GSM teknologi 2.5G di implementasikan dalam GPRS (General Packet Radio Services) dan WiDEN, sedangkan yang berbasis CDMA diimplementasikan dalam CDMA2000 1x.

1. GPRS (General Packet Radio Services).
GPRS merupakan teknologi overlay yang disisipkan di atas jaringan GSM untukmenangani komunikasi data pada jaringan. Dengan kata lain dengan menggunakanhandset GPRS, komunikasi data tetap berlangsung di atas jaringan GSM dengan GSM masih menangani komunikasi suara dan transfer data ditangani oleh GPRS.
Pengembangan teknologi GPRS di atas GSM dapat dilakukan secara efektif tanpa menghilangkan infrastruktur lama, yaitu dengan penambahan beberapa hardware dan upgrade software baru pada terminal/station dan server GSM. Kecepatan transfer data GPRS dapat mencapai hingga 160 kbps. Teknologi GPRS memiliki 3 fitur keunggulan, yaitu:
a.  Allways Online. GPRS menghilangkan mekanisme dial kepada pengguna pada saat ingin mengakses data, sehingga dikatakan GPRS selalu online karena transfer data dikirim berupa paket dan tidak bergantung pada waktu koneksi.
b.  An Upgrade to existing networks (GSM dan TDMA). Adopsi sistem GPRS tidak perlu menghilangkan sistem lama karena GPRS dijalankan di atas infrastruktur yang telah ada.
c.  An Integral part of EDGE and WCDMA. GPRS merupakan inti dari mekanisme pengiriman paket data untuk teknologi 3G selanjutnya.
GPRS dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan kemampuannya, yaitu :

1. Kelas A
Dapat dihubungkan ke jaringan GPRS dan GSM (suara, SMS) pada waktu besamaan penggunannya, perangkat yang mendukung kelas A masih tersedia sampai saat ini.

2. Kelas B
Dapat dihubungkan ke jaringan GPRS dan GSM (suara, SMS) tetapi hanya satu yang dapat digunakan pada waktu yang sama. Ketika layanan GSM (telepon atau SMS) digunakan, maka GPRS harus menunggu dan akan otomatis aktif kembali setelah layanan GSM (telepon atau SMS) diakhiri. Kebanyakan perangkat GPRS termasuk dalam kelas B.

3. Kelas C
Untuk menghubungkan layanan GPRS atau GSM (suara,SMS), harus dilakukan pengantian layanan secara manual antara kedua layanan (hampir sama seperti kelas B hanya pergantian jaringan yang aktif tidak otomatis).

Manfaat dari teknologi GPRS :
1. Client-Server Services yang memungkinkan pengaksesan data yang tersimpan dalam suatu basisdata. Contoh penerapan aplikasi ini adalah pengaksesan WEB melalui browser.
2. Messaging Services yang ditujukan untuk komunikasi antar individu pengguna dengan memanfaatkan storage server untuk penanganan pesan sebagai tempat penyimpanan pesan sementara / intermediate sebelum diterima oleh pengguna. Conoth hasil layanannya yaitu aplikasi Multimedia Message Service(MMS) yang digunakan untuk pengiriman data pesan multimedia melalui jaringan GSM dengan menggunakan telepon seluler.
3. Real-time conversational Services yang memberikan layanan komunikasi dua arah kepada pengguna secara real-time. Beberapa contoh penerapannya adalah pada aplikasi internet dan multimedia semisal Voice over IP (VOIP) dan video conferencing.
4.  Tele-action services.

5. Teknologi Generasi Ketiga (3G)
Teknologi generasi ketiga (3G Third Generation) dikembangkan oleh suatu kelompokyang diakui dan merupakan kumpulan para ahli dan pelaku bisnis yang berkompeten dalam bidang teknologi wireless di dunia.

Apa itu 3G (Third Generation)
ITU (Intenational Telecomunication Union) mendefisikan 3G (Third Generation) sebagai teknologi yang dapat unjuk kerja sebagai berikut :
1. Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 144 kbps pada kecepatan user 100 km/jam.
2. Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 384 kbps pada kecepatan berjalan kaki.
3. Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 2 Mbps pada untuk user diam (stasioner).
Frekuensi yang digunakan oleh teknologi 3G, yaitu :
1. Frekuensi penerimaan (downlink) 1920-1980 MHz.
2. Frekuensi pengiriman (uplink) 2110-2170 MHz.

Kemampuan teknologi 3G :
Memiliki kecepatan transfer data cepat (144kbps-2Mbps) sehingga dapat melayani layanan data broadband seperti internet, video on demand, music on demand, games on demand, dan on demand lain yang memungkinkan kita dapat memilih program musik, video, atau game semudah memilih channel di TV. Kecepatan setinggi itu juga mampu melayani video conference dan video streaming lainnya.

Kelebihan 3G dari generasi-genersi sebelumnya :
1. Kualitas suara yang lebih bagus.
2. Keamanan yang terjamin.
3. Kecepatan data mencapai 2 Mbps untuk lokal/Indoor/slow-moving access dan384 kbps untuk wide area access.
4. Support beberapa koneksi secara simultan, sebagai contoh, pengguna dapat browse internet bersamaan dengan melalukan call (telepon) ke tujuan yang berbeda.
5. Infrastruktur bersama dapat mensupport banyak operator dilokasi yang sama. Interkoneksi ke other mobile dan fixed users.
6. Roaming nasional dan internasional.
7. Bisa menangani packet-and circuit-switched service termasuk internet (IP) dan videoconferencing. Juga high data rate communication services dan asymmetric data transmission.
8. Efiensi spektrum yang bagus, sehingga dapat menggunakan secara maksimum bandwidth yang terbatas.
9. Support untuk multiple cell layer.
10. Co-existance and interconnection dengan satellite-based services.
11. Mekanisme billing yang baru tergantung dari volume data, kualitas service dan waktu.

6. Teknologi Generasi Tiga Setengah (3.5G)
Teknologi 3.5 G atau disebut juga super 3G merupakan peningkatan dari teknologi 3G, terutama dalam peningkatan kecepatan transfer data yang lebih dari teknologi 3G (>2 Mbps) sehingga dapat melayani komunikasi multimedia seperti akses internet dan video sharing. Yang termasuk dalam teknologi ini adalah :

1. High Speed Downlink Packet Access (HSDPA)
HSDPA merupakan Evolusi WCDMA dari Ericsson. HSDPA merupakan protokol tambahan pada sistem WCDMA (wideband CDMA) yang mampu mentransmisikan data berkecepatan tinggi. HSDPA fase pertama berkapasitas 4,1 Mbps. Kemudian menyusul fase 2 berkapasitas 11 Mbps dan kapsitas maksimal downlink peak data rate hingga mencapai 14 Mbit/s.Kecepatan jaringan HSDPA di lingkungan perumahan dapat melakukan download data berkecepatan 3,7 Mbps. Seorang yang sedang berkendaraan di jalan tol berkecepatan 100 km/jam dapat mengakses internet berkecepatan 1,2 Mbps.
Sementara itu, pengguna di lingkungan perkantoran yang padat tetap masih dapat menikmati streaming video meskipun hanya memperoleh 300 Kbps. Kelebihan HSDPA adalah mengurangi keterlambatan (delay) dan memberikan respon yang lebih cepat saat pengguna menggunakan aplikasi interaktif seperti mobile office atau akses Internet kecepatan tinggi, yang dapat disertai pula
dengan fasilitas gaming atau download audio dan video. Kelebihan lain HSDPA, meningkatkan kapasitas sistim tanpa memerlukan spektrum frekuensi tambahan, sehingga pasti akan mengurangi biaya layanan mobile data secara signifikan.

7. Teknologi Generasi Keempat (4G- fourth generation)
Teknologi fourth generation (4G) adalah teknologi yang baru memasuki tahap uji coba. Salah satunya oleh Jepang dimana pihak NTT DoCoMo, perusahaan ponsel di Jepang, memanfaatkan tenaga hingga 900 orang insinyur ahli untuk mewujudkan teknologi generasi ke 4.

1. Motivasi Teknologi 4G :
1. Mendukung service multimedia Interaktif.
2. Telekonfrensi, Wireless Intenet.
3. Bandwidth yang lebar, bit rates lebih besar dari 3G.
4. Global mobility, Service Portability, Low-cost service.
5. Skalabilitas untuk jaringan mobile.

2. Teknologi yang baru dalam 4G :
1.   Sepenuhnya untuk jaringan packet-switched.
2.   Semua komponen jaringan digital.
3.   Bandwidth yang besar untuk mendukung multimedia service dengan - Biaya yang murah ( Sampai     100 Mbps).
4.   Jaringan keamanan data yang kuat.


25 Jan 2014

Platinum 2014 Outlook: South Africa Mining, China Demand And Europe Emissions Drive Platinum Deficits

Platinum bars Ilya Naymushin/Reuters  
 
South Africa, China and Europe will drive platinum supply-and-demand fundamentals in 2014, even as the premium precious metal struggles against a downdraft from declining gold prices, according to platinum specialist Johnson Matthey PLC (LON:JMAT).
Many precious metals analysts have been bullish on platinum, driven by rising demand and an ongoing supply deficit, but prices this year haven't fared well, sailing down 10 percent partly on weakness in gold. It's unclear whether the tight supply-and-demand situation will beat out other factors in the short term, and lift prices.
High mining costs in South Africa mean its mines are unlikely to deliver more platinum in the near term, said Johnson Matthey marketing head Jeremy Coombes in a recent industry presentation. Johnson Matthey previously forecast a platinum deficit of 605,000 ounce in 2013, the third straight year of deficits and up more than 40 percent from 2012.
With platinum selling for about $1,400 per ounce, South African mines can cover most of their cash costs. But piling broader capital and exploration costs on top of those unit costs paints a more troubling picture, where many mining companies see mine expansion as unprofitable.

“There’s no doubt that miners are struggling in South Africa,” said Coombes in New York last week. He estimated that, including capital expenditure costs, about half of South African and Zimbabwean mining output doesn’t break even for their parent companies.
South Africa is the world’s largest producer of platinum, far exceeding rivals like Russia and Zimbabwe. It provided two thirds of the world’s platinum mining output in 2013. The world’s top three platinum producers, Impala Platinum Holdings Limited (ADR) (OTCMKTS:IMPUY),  Anglo American Platinum Ltd (ADR) (OTCMKTS:AGPPY) and Lonmin Plc (LON:LMI) have major South African operations.
South African Mining Costs Curve, October 2013, Johnson Matthey Dec 5, 2013 Presentation, ETF Securities Precious 

Metals Conference  Johnson Matthey“Companies have tried to conserve cash by not spending as much as maybe they should be on new developments,” said Coombes. “Essentially, South African mining is preserving the short term, possibly at the expense of the long -erm ability to produce to meet growing demand.”
Precious metals specialists see upside for platinum in coming years, as an automobile recovery in the U.S. and China continues. Much of the world’s platinum is used in catalytic converters in cars, the biggest use for the metal, which is also used in jewelery.
Others have also feared rising production costs for platinum miners, with HSBC Holdings PLC (LON:HSBA) precious metals analyst James Steel pointing to heavy platinum cash costs as a key danger for the industry. He estimated that cash costs could be as high as $1,700 per ounce.
“In the current price climate no South African producer can afford to significantly expand capacity,” wrote Steel in a Nov. 22 report. "Should demand increase significantly, producers might not be able to respond to the increased appetite for the metals.”
Just as South African suppliers suffer from limited growth potential, platinum demand is steadily rising. New emissions rules in Europe, set to take effect September 2014 and into 2015, will significantly raise the amount of platinum required in automobile anti-emission equipment, according to Coombes. Europe’s diesel-fired vehicles tend to use more platinum than its sister metal palladium, which is more common in the emission-control equipment of gasoline engines.
China, too, will play a key role in platinum markets in 2014. The country is increasingly seeking platinum for industrial uses, aside from its already established role as a major consumer of platinum jewelry.
Interest in platinum has jumped in 2013, as measured by sales on the Shanghai Gold Exchange (see chart below), with this year's sales of about 35,000 kilograms topping those of the last four years.
Platinum Sales on Shanghai Gold Exchange 2009-2013, Johnson Matthey Presentation Dec 5, 2013, ETF Securities Conference  Johnson Matthey

Menyulap sampah jadi energi listrik dan gas dengan alat sederhana

Siapa yang menduga tumpukan sampah sisa sayur mayur dan buah-buahan busuk yang ada di sudut-sudut pasar mampu disulap menjadi sumber energi alternatif bioetanol pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya kian melambung tinggi.

Didorong semakin melambungnya harga bahan bahan bakar minyak, Soelaiman Budi Sunarto tergerak mencari energi alternatif yang bisa menggantikan minyak. Dibantu oleh beberapa tenaga muda, di tahun 1998, Budi mencoba mengumpulkan sampah-sampah di sebuah rumah yang sengaja dibelinya di Desa Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Diakui oleh Budi, sebenarnya bioetanol bukan barang baru. Namun sayang, bioetanol kurang mendapat perhatian dari masyarakat, karena kurangnya sosialisasi penggunaan bioetanol. Masyarakat Indonesia sangat bergantung dengan BBM yang berasal dari fosil yang tidak dapat diperbarui.

Menurut Budi, dibandingkan dengan negara Brazil yang sudah mulai mensosialisasikan penggunaan bahan bakar campuran etanol dengan bensin sejak tahun 1976, di Indonesia kebijakan tersebut belum dijalankan. Meskipun sudah ada aturan Presiden tentang penggunaan bahan bakar lainnya selain BBM, namun belum dijalankan sepenuhnya.

Tak heran SPBU di Brazil yang dikelola Petrobras menyediakan dua tipe bahan bakar, yaitu etanol dan bensin. Brazil menggunakan produksi tebu sebagai bahan baku bioetanol, dan sudah diproduksi secara massal.

"Bahkan, komposisi penggunaan bioetanol dengan bensin di Brazil juga diatur. Besarannya pun beragam, mulai dari 10 persen sampai 22 persen. Hingga Juli 2007, penggunaan bahan bakar mobil menjadi 25 persen etanol dan 75 persen bensin," papar Budi, kepada wartawan, di Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (11/11/2013).

Awalnya, dalam produksi skala kecil untuk konsumsi terbatas bioetanol, Budi mencoba membuat bioetanol dari bahan singkong. Dan hasil racikannya tersebut, berhasil digunakan sebagai bahan bakar motor.

Tak berhenti sampai di situ, Budi mencoba membuat bioetanol hasil penyulingan dari berbagai jenis tanaman, seperti ubi kayu, jagung, sorgum biji, sagu, serta tanaman yang berglukosa seperti tebu, sorgum manis, bit dan serat jerami, bahan limbah bekas kayu gergaji, hingga ampas tebu.

Dan hasilnya, setelah melalui beberapa proses, sekali lagi, bisa digunakan sebagai bahan bakar motor. Selain membuat bioetanol dari tumpukan sampah, Budi membuat instalasi sederhana yang mengubah sampah menjadi gas, bensin, dan listrik. Hasil dari temuannya tersebut, kemudian disalurkan ke masyarakat setempat secara gratis.

"Bioetanol bisa dijadikan sumber energi alternatif, karena persediaan bahan bakar minyak bumi semakin menipis. Selain mudah dan murah, bioetanol bisa menggantikan minyak bumi," terangnya.

Melalui staf Budi bernama Larsi, dia menjelaskan bagaimana proses pembuatan bioetanol menggunakan peralatan yang sangat sederhana, yaitu albakos, alat biogas konsumsi sampah.

Alat itu memiliki tinggi sekira 95 sentimeter dengan diameter tabung 50 sentimeter, mampu menampung enam kilogram sampah organik kering, seperti sabut kelapa, dedaunan, kayu dan batang padi sisa penggilingan.

Dengan peralatan tersebut, sampah diubah menjadi gas metana lewat proses purifikasi (pemurnian) sehingga menghasilkan bioetanol yang nantinya dialirkan ke kompor warga untuk memasak dan ke genset untuk pembangkit listrik.

Untuk memasak menggunakan bioetanol harus menggunakan kompor khusus yang di berinama "bahenol" yang artinya bahan bakar  hemat etanol. Jadi konversi minyak tanah ke gas elpiji tidak berlaku di sekitar daerah ini.

"Bioetanol sangat aman, murah, dan tidak gampang meledak. Jadi masyarakat tidak perlu takut untuk menggunakannya," jelasnya. 

Inovasi lain dari bioetanol terbuat ciu yang merupakan minuman beralkhohol dan dijadikan bahan bakar untuk sepeda motor. Ciu sendiri berasal dari hasil penyulingan tetes tebu yang diproduksi menjadi alkohol untuk kepentingan medis, misalnya untuk mencuci alat kesehatan agar kembali steril setelah digunakan.

Larsi mengungkapkan, ciu merupakan bioetanol yang memiliki kadar alhohol mencapai 60-80 persen. Padahal, cairan bioetanol dengan kadar 20 persen saja sudah mampu menghidupkan mesin mobil dan sepeda motor.

Yang lebih menarik lagi, Rumah Budi di Desa Doplang Karangpandan sudah mandiri listrik yang terbuat dari panel surya dan sedang merintis Desa Mandiri Listrik yang berasal dari sampah organik dan kotoran sapi yang diolah menjadi bioetanol.

Menggunakan pembangkit listrik dengan mendirikan kandang sapi di tanah kas desa, dan meminta warga sekitar yang berternak sapi untuk mengandangkan sapinya di sana.

"Karena listrik yang dibutuhkan banyak, kita membutuhkan waktu. Paling tidak menunggu kotoran-kotoran sapi terkumpul dulu, baru diolah. Rencananya listrik dari biogas akan dialirkan ke setiap rumah," terangnya.

Jika seekor sapi bisa menghasilkan 20 kg kotoran setiap hari, maka dibutuhkan enam ekor sapi untuk menghasilkan energi listrik berkekuatan A 2.500 watt. Bukan hanya listrik, tapi juga akan dihasilkan gas metana sebanyak 650 gram perjamnya, setara dengan tiga kilogram gas elpiji.

Hasil dari biogas tersebut, api yang dihasilkan bukan berwarna biru, tapi tapi berwarna putih. Bila benar-benar bisa diproduksi massal di Indonesia, tidak akan terjadi krisis listrik dan elpiji.

Namun dukungan dari pemerintah sampai saat ini belum diperoleh. Untuk biaya produksi bioetanol dilakukan secara mandiri. Dengan cara membuka kelas khusus pelatihan bioetanol dan penelitian energi alternatif di pusat penelitiannya di Agro Makmur. Peserta kursus berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan juga dari Malaysia dan Singapura.

Sumber:
http://daerah.sindonews.com/read/2013/11/11/22/804428/hebat-ubah-sampah-jadi-energi-listrik-gas

Mining gold on unused Mobile phones

Mobile phones that are not used are precious metals, such as gold or silver. Mobile phones are high-tech products as well as the PCB board where the wires contain metals such as gold, silver, platinum and iridium. Although of course the numbers are very small. But we have a saying, "little by little into a hill". Several hundred grams of gold, silver and other metals can be obtained from 1 ton of unused mobile phones. It makes it like a gold mine, with gold and silver content of greater than usual mine.
Lately, half of the population has a mobile phone, and constantly new models appear on the market. Last year ago, more than 48 million mobile phones generated. In anticipation of this 6 large communications companies have implemented systems to get a collection of mobile phones are unused. Last year only one of these companies can collect 10 million of mobile phones is not in use, which of course is a gold mine.  

For washing gold from Japan of mobile phones using purification technology that has been developed ore in a mine Japan. As we know, mine ore at a place usually not pure and contains various types of metals. Because Japan has many volcanoes, magma heat is often used to melt the metal, which is then mixed and form ore deposits. Therefore, this technology was developed a long time to purify dirty ore into metal.Copper mining town Profinsi Kosaka in Akita, about 600 kilometers the north of Tokyo, is one of the few cities that developed it.
Many mobile phones are collected and processed there. In the past, Kosaka famous as a prominent producer of copper, but after the second World War, the mine was closed due to not compete with the price of copper imports.
The Mobile phone as well as the material in which the metals are there still intermingled. Smelting technology developed can now be used to obtain valuable metals from the former mobile phone.A large number of mobile phones collected are first killed and then inserted into the crucible along with copper ore. Objects such as plastic, lead and tin are separated and removed from the mixture to produce a material that is known for its raw copper, which is a mixture of copper, gold, platinum and other metals. Raw copper was then put in a solution of sulfuric acid. When the cathode is supplied electricity is fed into the solution, pure copper gather at the cathode. Other precious metals to harden and then separate.
Separate metal hardens and is then put into a solution of nitric acid and the process was repeated. This time gathered in pure silver cathode. The remaining material then enter into a solution of hydrochloric acid in which electricity is passed back to get pure gold. Kosaka smelter to process 50 tonnes of mobile phones each year, and then gained 15 pounds of gold. Because plant in Kosaka take lead, cadmium and other harmful substances before they start the process earlier. These materials are also purified for industrial use.The explosion of mobile phone use has resulted in an incredible byproducts. If the mobile phones discarded it immediately destroyed and buried in the ground, the heavy metals that are harmful can be separated and harmful effects to the environment. But by processing mobile phone that is not used this without causing garbage, can be obtained gold and silver. I think this technology as the saying goes, "once paddled, 2-3 islands exceeded"


Source: 
http://www.kamusilmiah.com/elektronik/menambang-emas-dari-telpon-genggam/

Menambang emas pada HP bekas

Telpon genggam yang sudah tidak terpakai merupakan logam berharga, seperti halnya emas atau perak. Telpon genggam adalah produk teknologi tinggi dimana papan PCB serta kabel-kabelnya mengandung logam-logam seperti emas, perak, platina dan iridium. Walaupun tentu saja jumlahnya sangat kecil. Tapi kita kan punya pepatah, “sedikit demi sedikit menjadi bukit”. Beberapa ratus gram emas, perak dan logam lainnya dapat diperoleh dari 1 ton telpon genggam yang tidak terpakai. Ini menjadikannya seperti tambang emas, dengan kandungan emas dan perak yang lebih besar dari tambang biasa.
Akhir-akhir ini, setengah dari penduduk Jepang mempunyai telpon genggam, dan secara terus menerus model baru muncul di pasaran. Tahun lalu saja, lebih dari 48 juta telpon genggam dihasilkan. Untuk mengantisipasi hal ini 6 perusahaan komunikasi besar telah menerapkan sistim pengumpulan untuk mendapatkan telpon-telpon genggam yang tidak terpakai. Tahun lalu saja salah satu dari perusahaan ini dapat mengumpulkan 10 juta telpon gengam yang tidak dipakai, yang tentu saja merupakan suatu tambang emas
Untuk mendulang emas dari telepon gengam Jepang menggunakan teknologi pemurnian bijih yang selama ini dikembangkan di sebuah pertambangan Jepang. Seperti kita ketahui tambang bijih di suatu tempat biasanya tidak murni dan mengandung bermacam jenis logam. Karena Jepang memiliki banyak gunung berapi, panasnya magma sering dipergunakan untuk melumerkan logam, yang kemudian mencampurkan serta membentuk deposit bijih. Karena itulah, teknologi ini dikembangkan sejak lama untuk memurnikan bijih yang kotor menjadi logam.
Kota penambangan tembaga Kosaka di Profinsi Akita, sekitar 600 kilometer diutara Tokyo, adalah satu dari beberapa kota yang mengembangkan teknologi itu. Banyak telpon genggam dikumpulkan dan diproses disana. Dulu, Kosaka terkenal sebagai kota penghasil tembaga yang terpandang, tetapi setelah Perang Dunia kedua, pertambangan itu ditutup karena kalah bersaing harga dengan tembaga impor.
Telpon genggam itu seperti halnya material dimana logam-logam yang ada masih saling bercampur. Teknologi peleburan yang dikembangkan saat ini dapat digunakan untuk memperoleh logam berharga dari telpon gengam bekas ini.
Sejumlah besar telpon genggam yang dikumpulkan pertama-tama dihancurkan dan kemudian dimasukkan kedalam wadah peleburan bersama dengan bijih tembaga. Benda-benda seperti plastik, timah hitam dan timah dipisahkan dan dikeluarkan dari campuran tersebut untuk menghasilkan sebuah material yang dikenal dengan tembaga mentah, yang merupakan campuran dari tembaga, emas, platina dan logam-logam lainnya. Tembaga mentah itu kemudian dimasukkan dalam larutan asam sulfur. Saat katoda yang dialirkan listrik dimasukkan kedalam larutan itu, tembaga murni berkumpul di katoda tersebut. Logam-logam berharga lainnya kemudian mengeras dan terpisah.
Logam yang mengeras dan terpisah ini kemudian dimasukkan kedalam larutan asam nitrat dan proses tadi diulang kembali. Kali ini perak murni yang berkumpul di katoda. Material sisanya kemudian di masukkan kedalam larutan asam hidroklorik dimana listrik kembali dialirkan untuk mendapatkan emas murni.
Pabrik peleburan di Kosaka mengolah 50 ton telpon genggam setiap tahunnya, dan kemudian memperoleh 15 kilogram emas. Karena pabrik di Kosaka mengambil timah hitam, kadmium dan zat-zat berbahaya lainnya sebelum mereka memulai proses tadi. Material-material ini juga dimurnikan untuk penggunaan industri.
Ledakan penggunaan telpon genggam telah menghasilkan produk sampingan yang luar biasa. Jika telpon-telepon genggam yang dibuang itu langsung di hancurkan dan dikubur di tanah, maka logam-logam berat yang berbahaya dapat terlepas dan menimbulkan pengaruh yang berbahaya bagi lingkungan. Tapi dengan mengolah telpon-telepon genggam yang sudah tidak dipakai ini tanpa menimbulkan sampah, dapat diperoleh emas dan perak. Kayaknya teknologi ini seperti kata pepatah, “sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui”

Sumber:  http://www.kamusilmiah.com/elektronik/menambang-emas-dari-telpon-genggam/